Skip to main content

Asuhan Keperawatan pada Klien TB Paru

                                                    TINJAUAN MEDIS                                                   
TUBERKULOSIS PARU (TB PARU)


DEFENISI

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis (mycobacterium tuberculosis). Kuman ini masuk melalui saluran nafas, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (air barne) yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi 

ETIOLOGI

Tuberkulosis disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis,  kuman ini bersifat tahan asam dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. 
Faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang terinfeksi oleh mycobakterium tuberkulosis adalah:
-  Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkinan diturunkan secara genetik
-  Usia: masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi
-  stres: situasi yang penuh stres (stres emosional, kelelahan yang kronik)
- Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi inflamasi dan memudahkan untuk penyebarab infekasi
-  Anak yang mendapatkan terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebih mudah
-  Nutrisi: status nutrisi yang kurang
-  Infeksi berulang, misalnya: HIV
- Tidak mematuhi aturan pengobatan
-  Bahan toksik, misalnya: alkohol, rokok.

Masa inkubasi berkisar antara 4–12 minggu mulai adanya infeksi sampai timbulnya lesi awal. Pada pulmonair progresif dan ekstrapulmonair, tuberculosis biasanya memakan waktu yang lebih lama sampai beberapa tahun.
Patofisiologi TB Paru



































DIAGNOSIS DAN MANIFESTASI KLINIS
Dengan berjalannya penyakit dan semakin banyaknya destraksi jaringan paru-paru, produksi sputum semakin banyak dan batuk-batuk dapat menjadi semakin berat. Biasanya tidak ada gejala nyeri dada, dan batuk darah biasanya hanya dikaitkan dengan kasus-kasus yang sudah lanjut.
Gejala klinik tuberkulosis dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :
1.        Gejala sistemik
a.       Demam :
-          Gejala pertama TB paru
-          Biasanya sore, malam hari berkeringat ® influenza
-          Masa serangan, masa bebas makin pendek ® temp : 40°C-41°C
-          Berdasarkan daya tahan dan virulensi kuman, serangan demam dapat terjadi setelah 3 bulan, 6 bulan , 9 bulan.
b.      Malaise
-          Rasa tidak enak badan
-          Pegal-pegal
-          Nafsu makan menurun
-          Berat badan menurun
-          Sakit kepala, lelah
-          Siklus haid bisa terganggu
2.        Gejala respiratorik
a.      Batuk                    :   Apabila bronkus terlihat
b.      Dahak                   :  Mukoid + purulen
c.      Batuk darah           : Pecahnya pembuluh darah
                                   Pecahnya aneurisma pada dinding kavitas
                                   Ulserasi pada mukosa bronkus.
d.      Sesak nafas           : System syaraf terkena
e.       Nyeri dada           :  Pleure : lokal + pleuritik

Penegakan diagnosis pada tuberkulosis paru dapat  dilakukan dengan melihat keluhan atau gejala klinis, pemeriksaan biakan, pemeriksaan mikroskopis, radiologik dan tuberkulin test.

KLASIFIKASI TUBERKULOSIS
Tuberkulosis yang diklasifikasikan berdasarkan hasil pemeriksaan dahak dapat dibagi menjadi :
1.        Tuberkulosis paru BTA Positif
        Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif, satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif

2.        Tuberkulosis paru BTA negatif
       Pemeriksaan  3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

3.        Tuberkulosis ekstra paru
         Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang persendian, kulit usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

Berdasarkan tipe penderita :
1. Kasus baru : Penderita belum pernah diobati dengan OAT atau sudah menelan OAT > 1 bulan
2. Kambuh : Penderita yang pernah berobat dan dinyatakan sembuh yang kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif
3. Pindahan : Penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian berobat pindah ke kabupaten lain.
4. Kasus berobat setelah lalai : penderita yang sudah berobat ± 1 bulan dna berhenti 2 bulan / lebih, kemudian datang kembali berobat.
5. Lain-lain dapat berupa :
-   Gagal = penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali positif, pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih.
-   Kronik = penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah pengobatan ulang kategori 2.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Kultur sputum
Positif untuk mycobakterium tuberkulosis pada tahap akhir penyakit
2. Zichl – Neelsel
       Pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah positif untuk hasil asam cepat.
3. Test Kulit
      (Mantoux, poongan volliner) reaksi positif (are indurasi 10 mm / >>>m terjadi 48-72 jam) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibody tetapi terjadi berarti menunjukkan penyakit aktif.
4.  Elisa / Wstern Blol
Dapat menyatakan adanya HIV.
5. Foto thoraks
Lesi pada lapangan atas paru
Bayangan berawan atau berpencar
Lesi bilateral
Bayangan menetap pada foto ulang.
6. Histologi atau kultur jaringan  = positif untuk mycobakterium TB
7. Biopsi jarum pada jaringan paru = positif untuk granulosa TB : adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
8. Elektrolit
      Dapat tidak normal tergantung lokasi dan beratnya infeksi : contoh hiponatremia, disebabkan oleh tidak normalnya retensi air dapat ditentukan pada TB paru kronis luas.
9. GDA : Dapat normal, tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.
10. Pemeriksaan fungsi paru : penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, penurunan saturasi O2 kehilangan jaringan paru

PENATALAKSANAAN/ PENGOBATAN
1.        Pendidikan Kesehatan
-   Isolasi penderita untuk mencegah penyebaran infeksi
-   Memakan obat secara teratur
-   Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG pada anak
-   Memperbaiki standard hidup dengan cara: mengkonsumsi makanan sehat, perumahan dengan ventilasi yang baik, istirahat dan tidur yang cukup.
2.        Terapi Obat-obatan (OAT)
a.       Dulu : Pengobatan jangka panjang (1,5 – 2 tahun): suntikan streptomycin INH dan ethambutol)
b.      Saat ini : Pengobatan jangka pendek (6 bulan)
·         Penggunaan Oat mengandung rifamfisin, pyrazinamid, sebagai panduan, terapi awal : INH
·         Efektivitas tergantung pada panduan obat, jalan obat dan lamanya
·         Kriteria keberhasilan pengobatan :
o   Konversi (-) BTA setelah 2 bulan pengobatan
o   Akhir pengobatan kekambuhan setelah penghentian pengobatan
o   Pola sensitivitas.
·         Auskultasi dada posterior
Auskultasi  harus dilakukan dalam lingkungan yang tenang. Pasien diminta menarik dan mengeluarkan nafas melalui  mulutnya. Pemeriksa mula-mula harus memusatkan perhatian pada panjang inspirasi kemudian pada panjang ekspirasi. Bila bunyi pernafasan sangat lemah, dipakai istilah jauh. Bunyi pernafasan yang jauh lazim ditemukan pada pasien dengan paru-paru hiperinflasi, seperti pada emfisema.
Pemeriksaan harus dilakukan dari sisi ke sisi dan dari atas ke bawah, dengan membandingkan satu sisi dengan sisi lainnya. Karena kebanyakan bunyi pernafasan mempunyai tinggi nadi tinggi, diafragma dipakai untuk memeriksa bunyi paru-paru.


Nama Obat
Pemberian tiap hari
Dosis obat perhari
Dosis maksimal perhari
Rifampisin
10-20 mg/kg BB
450 mg
INH (Isoniazid)
10 mg/kg BB
300 mg
Pirazinamide
30-35 mg/kg BB
1500 mg
Streptomisin
20-30 mg/kg BB
750 mg
Etambutol
15-20 mg/ kg BB
800 mg

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN TB PARU



PENGKAJIAN
1.      Aktivitas / istirahat
Gejala        : Kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam atau demam malam hari / berkeringat, mimpi buruk.
Tanda        : Takikardia  / takipnea / dispnea, kelelahan otot, nyeri dan sesak.
2.      Integritas ego
Gejala        : Adanya / faktor stres lama, masalah keuangan, rumah, perasaan tidak berdaya/
Tanda        : Menyangkal ansietas, ketakutan, mudah terangsang.
3.      Makanan / cairan
Gejala        : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan berat badan.
Tanda        : Turgor kulit buruk, kering / kulit bersisik, kehilangan otot . hilang lemak subkutan.
4.      Nyeri / kenyamanan
Gejala        : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda        : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5.        Pernafasan
Gejala         : Batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayat tuberkulosis / terpajan pada individu terinfeksi
Tanda        : Peningkatan tekanan pernafasan, pengembangan pernafasan tidak simetris, perkusi pekak dan penurunan fromitus, bunyi nafas menurun (+) ada secara bilateral / unilateral, krekels tercatat di atas afek paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek, karakteristik sputum: hijau purulen, mukoid kuning atau bercak darah. Deviasi trakea, tidak perhatian, mudah terangsang yang nyata, perubahan mental.
6.      Keamanan
Gejala        : Adanya kondisi penekanan imun (AIDS, kanker), tes HIV (+)
Tanda        : Demam rendah atau sakit panas akut.
7.      Interaksi sosial
Gejala        : Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab.
8.        Penyuluhan / pembelajaran
Gejala         : Riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk, gagal untuk membantu / kambuhnya TB, tidak berpartisipasi dalam terapi.


PRIORITAS KEPERAWATAN
1.      Meningkatkan / mempertahankan ventilasi / oksigenasi
2.      Mencegah penyebaran infeksi
3.      Mendukung perilaku / tugas untuk mempertahankan kesehatan
4.      Meningkatkan  strategi koping efektif
5.      Memberikan info tentang proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan.

TUJUAN PEMULANGAN
1.      Fungsi pernafasan adekuat  untuk memenuhi kebutuhan individu.
2.      Komplikasi dicegah
3.      Pola hidup / peirlaku berubah diadopsi untuk mencegah penyebaran infeksi
4.      Proses penyakit / prognosis dan program pengobatan dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa 1:
Risiko tinggi infeksi
Berhubungan dengan
  • Pertahanan primer tidak adekuat
  • Penurunan kerja silia / statis sekret
  • Kerusakan jaringan / penekanan proses inflamasi malnutrisi
  • Terpajan lingkungan
  • Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen
Kriteria hasil :
  • Pasien akan mengidentifikasi intervensi untuk  mencegah / menurunkan risiko penyebaran infeksi
  • Pasien akan menunjukkan teknik / melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.

INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
·      Kaji patologi penyakit dan potensi penyebaran penyakit infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara, tertawa, menyanyi.
·      Identifikasi orang lain yang beresiko (Contoh: orang serumah, sahabat/teman)
·      Anjurkan pasien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan pada tisue dan menghindari meludah.
·      Kaji tindakan kontrol infeksi sementara contoh masker/isolasi pernafasan

·      Awasi suhu sesuai yang indikasi

·      Identifikasi faktor risiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkulosis.

·      Tekankan pentingnya menghenti-kan terapi obat
·      Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara periodik terhadap sputum untuk lamanya terapi
·      Dorong memilih/ mencerna makanan seimbang berikan makanan kecil dan sering

Kolaborasi :
·      Berikan agen anti infeksi sesuai indikasi. Mis: INH, etambutol, rifamfisin.

·      Awasi pemeriksaan laboratorium (hasil usapan sputum)

·      Membantu  pasien menyadari/   menerima perlunya memenuhi pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang/ komplikasi
·      Orang yang terpajan perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/ terjadinya infeksi.
·      Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi

·      Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien dan membuang stigma  sosial sehubungan dengan penyakit menular.
·      Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjutan.
·      Pengetahuan tentang faktor dapat membantu pasien untuk mengubah pola hidup mengidentifikasi/ menurunkan insiden eksaserbasi.
·      Periode terakhir 2-3 hari setelah kemoterapi awal.
·      Alat dalam pengawasan efek dan keefektifan obat dan respon pasien terhadap terapi.

·      Makanan kecil dan sering dapat membantu untuk mencukupi kebutuhan karena anoreksia sebelumnya.

·      Kombinasi agen anti infeksi digunakan, INH, biasanya obat pilihan untuk pasien infeksi pada risiko terjadi TB.
·      Pasien yang mengalami negatif (memerlukan 2-5 bulan) perlu menaati program diet.


Diagnosa 2:
Bersihan jalan nafas tidak efektif
Berhubungan dengan
  • Sekret kental / sekret darah
  • Kelemahan
  • Upaya batuk buruk
  • Edema trakea / faringeal
Ditandai dengan
  • Frekuensi pernafasan, irama ke dalam tidak normal, bunyi nafas tidak normal (ronchi, mengi) dan stridor, dispnea.
Kriteria hasil :
  • Pertahankan jalan nafas
  • Mengeluarkan sekret tanpa bantuan
  • Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki / mempertahankan kebersihan jalan nafas
  • Berpartisipasi dalam program pengobatan
  • Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat

INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
·      Kaji fungsi pernafasan seperti bunyi nafas, kecepatan irama dan kedalaman dan penggunaan otot aksesori




·      Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/ batuk efektif.


·      Berikan posisi semi fowler tinggi, bantu pasien untuk batuk/ latihan pernafasan dalam.




·      Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. Penghisapan  sesuai keperluan.

·      Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hr

Kolaborasi :
·      Lembabkan udara O2 inspirasi


·      Berikan obat-obatan SSI (agen mukolitik)


·      Bersiap untuk membantu intubasi darurat.

·      Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis, ronchi, mengi menunjukkan akumulasi sekret meningkat, ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernafasan.
·      Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal sputum berdarha tebal atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkkhial dan dapat memerlukan evaluasi.
·      Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekresi ke dalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan.
·      Mencegah obstruksi / aspirasi – penghisapan dapat diperlukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret
·      Pemasukan tinggi cairan membantu mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.

·      Mencegah pengeringan membran mukosa, membantu pengenceran sekret
·      Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan
·      Intubasi diperlukan pada kasus bronkogenik TB dengan edema kering dan perdarahan paru akut.


Diagnosa 3:
Risiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas
Berhubungan dengan
  • Penurunan permukaan efektif paru
  • Atelektasis
  • Kerusakan membran alveolar-kapiler
  • Ekret kental dan tebal
  • Edema bronkial.
Kriteria hasil :
  • Melaporkan tidak adanya/ penurunan dispnea
  • Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal
  • Bebas dari gejala distress pernafasan.

INTERVENSI

RASIONAL
Mandiri
·      Kaji dispnea, takipnea, tidak normal/ menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada  dan kelemahan
·      Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sianosis dan atau perubahan warna kulit

·      Tunjukkan/ dorong bernafas bibir selama ekshalasi khususnya untuk  pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.


·      Tingkatkan tirah baring/ batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.

Kolaborasi :
·      Awasi GDH/ nadi oksimetri



·      Berikan O2 tambahan yang sesuai


·      TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bag kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas.

·      Akumulasi sekret/ pengaruh jalan nafas dapat mengganggu desigenisasi organ vital dan jaringan.
·      Membantu tahanan melawan udara luas untuk mencegah kolaps/ penyempitan jalan nafas sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghasilkan/ menurunkan nafas pendek.
·      Menurunkan konsumsi O2/ kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.

·      Menurunkan kandungan O2 (PaO2 ) dan atau saturasi/ peningkatan PaO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi.
·      Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/ menurunkan permukaan alveolar paru


Diagnosa 4:
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan
  • Kelemahan
  • Sering batuk/ produksi sputum : dispnea
  • Anoreksia
  • Ketidakcukupan sumber keuangan
Ditandai dengan
  • Di bawah 10% - 20% ideal untuk bentuk tubuh dan berat, melaporkan kurang tertarik pada makanan, gangguan sensasi pengecap, tonus otot batuk.
Kriteria hasil :
  • Menunjukkan BB meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium 2 dan bebas tanda malnutrisi.
  • Melakukan perilaku/ perubahan pola hidup untuk meningkat dan mempertahankan berat yang tepat.

INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
·      Catat status nutrisi pasien, pada penerimaan, turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan, integritas mukosa oral kemampuan/ ketidakmampuan menelan adanya tonus usus, riwayat mual muntah/ diare.
·      Pastikan pola diet pasien yang disukai atau tidak disukai
·      Awasi masukan/ pengeluaran dan berat badan secara periodik

·      Kaji anoreksia, mual muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat, awasi frekuensi volume konsistensi feses.
·      Dorong dan berikan periode istirahat yang sering

·      Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.


·      Dorong makan sedikit tapi sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
·      Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan pasien.

Kolaborasi :
·      Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.


·      Berikan antipiretik.

·      Berguna dalam mendefenisi derajat/ luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.




·      Membantu dalam mengidentifikasi laboratorium/ kekuatan.
·      Berguna dalam  mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan
·      Dapat mempengaruhi pilihan diet, mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan  pemasukan/ penggunaan nutrisi.
·      Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam.
·      Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum/ obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah
·      Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tidak perlu/ kebutuhan energi dan makanan.
·      Membuat lingkungan sosial lebih normal selama makanan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultur.

·      Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolisme dan diet.
·      Demam meningkatkan kebutuhan metabolisme dan juga konsumsi kalori.


Diagnosa 5:
Kurang mengenal kondisi, aturan tindakan dan pencegahan
Berhubungan dengan
  • Kurang terpajan pada / salah intervensi info
  • Keterbatasan kognitif tidak akurat/ lengkap  info yang ada
Ditandai dengan
  • Permintaan info, menunjukkan kesalahan konsep tentang status kesehatan, kurang/tidak akurat mengikuti instruksi/perilaku, menunjukkan atau memperlihatkan perasaan terancam.
Kriteria hasil :
  • Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosa kebutuhan pengobatan
  • Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesadaran umum dan menurunkan risiko pengaktifan ulang TB.
  • Mengidentifikasi gejala yang lebih memerlukan evaluasi dan intervensi
  • Menggambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan adekuat.

INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
·      Kaji kemampuan pasien untuk belajar

·      Identifikasi gejala yang harus dilaporkan seperti hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan  bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo
·      Tekankan pentingnya memper-tahankan  protein tinggi dan diet karbohidrat dan masukan cairan adekuat.

·      Berikan instruksi (informasi tertulis khusus pada pasien (jadwal obat).

·      Berikan dosis obat, efek pemberian kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama.

·      Kaji potensi efek samping, pengobatan (mulut kering, kordipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, hipertensi.
·      Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alkohol

·      Rujuk untuk pemeriksaan mata selama minum
·      Dorong pasien/ orang terdekat untuk menyatakan takut

·      Kaji bagaimana TB ditularkan

·      Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditekankan pada tahap individu.
·      Dapat menunjukkan kemajuan/ pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan  evaluasi
·      Memenuhi kebutuhan metabolisme, membantu, meminimalkan, kelemahan dan penyembuhan, cairan dapat mengencerkan/ mengeluarkan sekret.
·      Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar info.
·      Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien.
·      Mencegah menurunkan ketidak-nyamanan sehubungan dengan terapi dan meningkatkan kerjasama dalam program
·      Kombinasi INH + Alkohol lebih menunjukkan peningkatan insiden hepatitis
·      Efek samping untuk menurunkan penelitian
·      Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan  konsepsi/ peningkatan ansietas
·      Pengetahuan dapat menurunkan reaksi penularan.



Comments

Popular posts from this blog

Daftar Kode UPBJJ dan Kode Mata Kuliah Universitas Terbuka

_*DAFTAR KODE & UPBJJ*_ 21-Jakarta 22-Serang 23-Bogor 24-Bandung 11-Banda Aceh 12-Medan 13-Batam 14-Padang 15-Pangkalpinang 16-Pekanbaru 17-Jambi 18-Palembang 19-Bengkulu 20-Bandar Lampung 41-Purwokerto 42-Semarang 44-Surakarta 45-Yogyakarta 71-Surabaya 74-Malang 76-Jember 77-Denpasar 78-Mataram 79-Kupang 47-Pontianak 48-Palangka Raya 49-Banjarmasin 50-Samarinda 80-Makassar 81-Majene 82-Palu 83-Kendari 84-Manado 85-Gorontalo 86-Ambon 89-Ternate 87-Jayapura 10-Sorong 51-Tarakan 90-Pusat Pengelolaan Mahasiswa Luar Negeri _*DAFTAR KODE & PRODI*_ *FE (Fakutltas Ekonomi)* - 53/Ekonomi Pembangunan-S1 - 54/Manajemen-S1 - 83/Akuntansi-S1 - 483/Akuntansi Keuangan Publik-S1 - 458/Ekonimi Syari'ah *FHISIP (Fakultas Hukum Ilmu Sosial & Ilmu Politik)* - 30/Perpajakan-DIII - 50/Ilmu Administrasi Negara-S1 - 86/Ilmu Administrasi Negara bidang minat Administrasi dan Manajemen Kepegawaian-S1 - 51/Ilmu Administrasi Bisnis-S1 - 71/Ilmu Pemerintahan-S1 - 38/Kearsipan-DIV - 72/Ilmu Komunika...

Posisi Pasien selama Operasi (Kamar Bedah)

Posisi pasien di meja operasi ditentukan dari jenis operasinya. Tidak hanya posisi waktu operasi, tetapi juga konsistensi fungsi vital pernafasan dan sirkulasi. Selama operasi pasien harus dilindungi dari trauma syaraf  dan gangguan sirkulasi adarah dengan menghindari ketegangan dan penekanan semua otot bagiantubuh. Untuk mempersiapkan posisi pasien perawat akamar bedah harus mengetahuianatomi meja operasi serta cara pemakaiannya. Sebelum operasi perawat mencoba dan memastiakan bagaimana cara menaikkan, menurunkan atau memiringkan  serta mengetahui bagian meja operasi yang dapat dilepas, ditambah ataupun dipatahkan agar operasi beajalan lancar. Apabila diperlukan perubahan posisi intar operasi, begitu juga dengan lampu perawat juga harus mengetahui anatomi dan tekhnik agar sinar lampu fokus pada sayatan yang dalam. Selain itu kita juga harus tahu bagaimana cara mengunci meja dan membuka kunci sehingga dapat digerakkan. Apabila semua itu sudah di pahami, jangan lupakan peraw...

Aseptik dan Antiseptik Area Operasi

Pasien yang akan mengalami tindakan pembedahan , pada daerah pembedahannya harus bebas dari debu, mikro organisme dan minyak yang menempel pada kulit, gunanya membunuh kuman patogen penyebab infeksi pada luka sayatan kulit. Kulit adalah organ pelindung tubuh yang utama, jika kulit rusak baik karena disengaja ataupun kecelakaan atau trauma maka organisme patogen akan mudah memasuki tubuh dan berkembang biak, mula-mula hanya setempat dan akhirnya menjadi sistemik. Proses radang merupakan respon tubuh untuk membatasi efek-efek luka, pertahanan internal yang melindungi tubuh terhadap infeksi sistemik. Disamping itu infeksi adalah suatu peroses dimana kuman patogen masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Luka sayatan pada pembedahan merusak pertahanan external dan memberi peluang masuknya kuman-kuman patogen. Jika kuman patogen cukup virulen sehingga mengalahkan pertahanan tubuh. Maka dapat timbul penyakit dengan menghancurkan jaringan lokal atau toksinnya disebarkan secara siste...