Skip to main content

ASUHAN KEPEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SIROSIS HEPATIS




DEFENISI
Sirosis adalah radang pada hati (liver) yang disebabkan oleh jangkitan virus. Sirosis hepatis ditandai oleh adanya radang difus yang menahun pada hati, diikuti dengan jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenchim hati.



ETIOLOGI
Penyakit yang di duga dapat menyebabkan sirnosis hati antara lain :
1.      Malnutrisi
2.      Alkoholisme
3.      Virus hepatitis
4.      Penyakit Wilson
5.      Hemokramatosis
6.      Zat toksik
7.      Kegagalan jantung yang menyebabkan bendungan vena hepatica.


KLASIFIKASI
Ada 3 tipe atau pembentukan perut dalam hati yaitu :
1.      Shirosis portal (alkoholik adultrisional)
Dimana saringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sirhosis ini paling sering disebabkan alkoholisme kronis dan merupakan tipe sirnosis yang paling sering ditemukan.
2.      Sirnosis polscanekrotik
Dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sehingga akibat lanjut dan hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.
3.      Sirnosis Burer
Dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati disekitar empedu, tipe ini biasanya terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis & infeksi.
 
GEJALA KLINIS
1.      Hepatitis A
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala :
·         Rasa lelah
·         Demam
·         Diare
·         Mual
·         Nyeri perut
·         Mata kuning dan hilangnya nafsu makan
Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A kebal terhadap penyakit tersebut.

2.      Hepatitis B
Gejala mirip dengan hepatitis A yaitu :
·         Hilangnya nafsu makan
·         Mual
·         Muntah
·         Rasa lelah
·         Mata kuning
·         Muntah dan demam

Tanda – tanda dari kesan dari pada anihosis hepatis adalah :
1.      Rasa lemah badan
2.      Hilangnya selera makan
3.      Pening dan muntah
4.      Hati membengkak
5.      Badan gatal disebabkan penumpukan bile di dalam hati.
6.      Joudice atau kuning pada bagian kulit dan putih mata
7.      Air kencing/urine gelap, fases menjadi cerah
8.      Pembentukan batu karang karena kekurangan bile didalam good bladder
9.      Air berkumpul di dalam perut lascites
10.  Oedem di kaki
11.  Mudah terjadi bengkak dan perdarahan

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      Pemeriksaan Laboratorium
a.       Darah
Bisa dijumpai Hb rendah. Anemia normokrom normositer, hipokrom mikrositer atau hipokrom makrositer.
b.      Kenaikan kadar enzim transaminase/SGOT, SGPT akibat kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan.
c.       Albumin, kadar albumin yang merendah merupakan cerminan kemampuan sel yang kurang, penurunan kadar albumin dan peningkatan kadar globulin merupakan tanda kurangnya daya tahan hati.
d.      Pemeriksaan CHE (colinestrase) penting dalam penilaian kemampuan sel hati. Bila terjadi kerusakan sel hati maka kadar CHE akan menurun.
e.       Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan pembatasan garam dalam diet.
f.       Pemanjangan masa protombin merupakan petunjuk adanya penurunan fungsi hati.
g.      Peningkatan KGD pada niosis hati fase lanjut disebabkan kurangnya kemampuan sel hati membentuk glikogen.

2.      Pemeriksaan jasmani
a.       Hati
Biasa hati membesar pada awal sirosis N =7-10 cm, pada sirosis hati konsistensi hati biasanya kenyal, pinggir hati biasanya tumpul dan ada sakit tekan pada perabaan hati.
b.      Limfa
Pembesaran limpa diukur dengan 2 cara :
-          Schuffner : hati membesar ke medial dan ke bawah menuju umbilicus (S1 – IV) dan umbilicus sias kanan (SV – VIII).
-          Hacket, bila limfa membesar ke arah bawah saja (H I-V)
c.       Perut dan extra abdomen
Pada perut diperhatikan vena kolateral dan asites.

3.      Pemeriksaan Penunjang lain :
a.       Radiologi
Dengan barium swallau dapat dilihat adanya varises esophagus untuk konfirmasi hipertensi portal.
b.      Esofagoskopi
Dapat melihat varises esophagus sebagai komplikaisi sirosis hepatis.
c.       Ultrasonografi

PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi dan prognosis sirosis hati tergantung pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal.
1.      Istirahat yang cukup, susunan diet tinggi kalori dan protein, lemak secukupnya.
2.      Untuk menghambat perkembangan kologenik dapat diberikan D- pemellamine dan colchicines.
3.      Pada hepatitis kronik autoimun diberikan kortikosteroid.
4.      Untuk asites diberikan diet rendah garam 0,5 g/hari dan total cairan 1,5 l/hr.
Spironolakton dimulai dengan dosis awal 4 x 25 mg/hari dinaikkan sampai 800 ml sehari.
5.      Bila terjadi perdarahan varises esophagus dilakukan pemasangan NGT untuk mengetahui apakah perdarahan terjadi dari saluran cerna.
Bila perdarahan banyak lakukan pemberian IVFD dengan pemberian dextrose/salin dan transfusi darah secukupnya. Berikan vasopresin 2 amp 0,19 dalam 500 cc cairan D 5%.
6.      Operasi pintas dilakukan pada chnd AB atau dilakukan transeksi esofagus.




ASUHAN KEPERAWATAN SEROSIS HEPATIS


PENGKAJIAN
1.  Aktivitas/istirahat
Gejala     :  Kelemahan, kelelahan, terlalu lemah
Tanda     :  Latergi, penurunan massa otot/tonus.
2.  Sirkulasi
Gejala     :  Riwayat gak, perikarditis, penyakit jantung reumatik, kanker, distrimia, bunyi jantung ekstra (33.54).
3.   Eliminasi
Gejala     :  Flatus
Tanda     :  Distensi abdomen (Hepatomegali, spienomegali, asites), penurunan/tidak adanya bising usus, feses warna tanah liat, melena, urine gelap, pekat.
4.   Makanan / cairan
Gejala     :  Anorexia, tidak toleran terhadap makanan / terdapat mencerna, mual/muntah.
Tanda     :  Penurunan BB/peningkatan cairan, penggunaan jaringan, edema umum pada jaringan, kulit kering, turgor buruk, ikterik, nafas berbau, perdarahan gusi.
5.   Neuro sensori
Gejala     :  Orang terdekat dapat melaporkan perubahan kepribadian, penurunan mental.
Tanda     :  Perubahan mental, bingung, halusinasi, koma, bicara lambat/tidak jelas.
6.   Nyeri/kenyamanan
Gejala     :  Nyeri tekan abdomen/nyeri kuadran kanan atas, pruritas, neuritis feriper.
Tanda     :  Prilaku berhati-hati/distraksi, focus pada diri sendiri.
7.   Pernafasan
Gejala     :  Dispnea
Tanda     :  Takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan, ekspansi paru terbatas, hipoksia.
8.   Keamanan
Gejala     :  Pruritus
Tanda     :  Demam, ikterik, ekimosis, perakie, angioma spider, eritema palmar.
9.   Seksualitas
Gejala     :  Gangguan menstruasi, impotensi.
Tanda     :  Atrofi testis, kehilangan rambut.
10. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala     :  Riwayat penggunaan alcohol jangka panjang/penyalahgunaan, penyakit hati, alkoholik, riwayat penyakit empedu, hepatitis, penggunaan obat yang mempengaruhi fungsi hati.
Pertimbangan
Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dengan tugas perawatan/pengaturan rumah.

PRIORITAS KEPERAWATAN
1.      Mempertahankan nutrisi adequate
2.      Mencegah komplikasi
3.      Meningkatkan konsep diri, penerimaan situasi
4.      Pemberian informasi tentang proses penyakit/prognoisis, potensial komplikasi dan kebutuhan pengobatan.

TUJUAN PEMULANGAN
1.      Pemasukan nutrisi adequate untuk kebutuhan individu
2.      Komplikasi di cegah/minimal
3.      Menerima kenyataan
4.      Proses penyakit, prognosis, potensial komplikasi, dan program pengobatan dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa 1:
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan
·         Diet tidak adequate
·         Ketidakmampuan untuk memproses/mencerna makanan
·         Anorexia
·         Mual/muntah
·         Fungsi usus abnormal
Ditandai dengan
·         Penurunan berat badan, perubahan bunyi dan fungsi usus, tonus otot buruk.
Kriteria hasil :
·         Menunjukkan peningkatan bb progresif, dengan nilai laboratorium normal.
·         Tidak mengalami tanda mal nutrisi.

Intervensi
Rasional
·         Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori
·         Bandingkan perubahan status cairan, riwayat BB, ukuran kulit trisep.
·         Bantu pasien untuk makan, jelaskan tipe diet. Beri pasien makan bila mudah lelah, pertimbangkan pilihan makanan yang disukai.
·         Anjurkan pasien untuk makan-makanan tambahan missal : susu, roti.

·         Beri pasien makan sedikit tapi sering


·         Beirikan tambahan garam bila diizinkan, hindari yang mengandung ammonium.
·         Batasi masukan kafein, makanan yang menghaisilkan gas atau berbumbu dan terlalu panas atau terlalu dingin.
·         Berikan makanan lunak, hindari makanan keras sesuai indikasi

·         Berikan perawatan mulut sring dan sebelum makan.

·         Tingkatkan priode tidur tanpa gangguan, khususnya sebelum makan.
·         Anjurkan untuk menghentikan merokok.
Kolaborasi
·         Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : Glukosa serum, albumim, total protein.





·         Pertahankan status puasa bila di indikasikan.

·         Berikan makanan dengan selang, hipereimentasi, lipid sesuai indikasi


·         Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi dalam kalori dan karbohidrat sederhana rendah lemak dan tinggi protein.





·         Berikan obat sesuai indikasi

·         Memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan defisiensi.
·         Lipatan trisep berguna dalam mengkaji perubahan massa otot dan simpanan lemak subkutan.
·         Diet yang tepat penting untuk penyembuhan bila keluarga terlibat dan makanan yang disukai mungkin makan lebih baik.

·         Pasien mungkin hanya makan sedikit karena kehilangan minat pada makanan dan mengalami mual, kelemahan umum, malaise.
·         Buruknya toleransi terhadap makan banyak mungkin berhubungan dengan peningkatan tekanan intra abdomen.
·         Tambahan garam meningkatkan rasa makanan dan membantu meningkatkan selera makan : Amonia potensial resiko ensetalopan.
·         Menurunkan iritasi gaster/diare dan ketidaknyamanan abdomen yang dapat menganggu pemasukan oral/pencernaan.
·         Pasien cendrung mengalami perdarahan dari varises esophagus dapat terjadi pada sirosis berat.
·         Pasien cendrung mengalami luka dan perdarahan gusi dan rasa tidak enak pada mulut dimana menambah anorexia.
·         Penyimpanan energi menurunkan kebutuhan metabolic pada hati dan meningkatkan regenerasi seluler.
·         Menurunkan rangsangan gaster berlebihan dan resiko iritasi/perdarahan.

·         Glukosa menurun menurun karena gangguan glikogenesis, penurunan penyimpanan glikogen atau masukan tak adequate, protein menurun karena gangguan metabolisme, penurunan sistem hepatic atau kehilangan kerongga peritoneum, peningkatan kadar ammonia perlu pembatasan masukan protein untuk mencegah komplikasi serius.
·         Pada awalnya pengistirahatan GI diperlukan untuk menurunkan kebutuhan pada hati dan produksi ammonia/urea GI.
·         Mungkin diperlukan untuk diet tambahan untuk memberikan nutrien bila pasien terlalu mual atau anorexia untuk makan atau varices esophagus mempengaruhi masukan oral.
·         Makanan tinggi kalori di butuhkan pada kebanyakan pasien yang pemasukannya dibatasi, karbohidrat memberikan energi yang siap pakai, lemak diserap dengan buruk karena disfungsi hati dan mungkin memperberat ketidaknyamanan abdomen, protein diperlukan untuk perbaikan  kadar protein serum untuk menurunkan edema dan untuk meningkatkan regenerasi sel hati.
·         Pasien biasanya kekurangan vitamin karena diet yang buruk sebelumnya.


Diagnosa 2:
Kelebihan volume cairan
Berhubungan dengan
·         Gangguan mekanisme regulasi
·         Kelebihan natrium/masukan cairan
Ditandai dengan
·         Edema, peningkatan berat badan, pemasukan lebih besar dari pengeluaran, oliguria, perubahan td, reflek hepatoaugular positif, gangguan elektrolit, perubahan status mental.
Kriteria hasil :
·         Menunjukkan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran.
·         Bb stabil
·         Tanda vital dalam rentang normal dan tidak ada edema.

Intervensi
Rasional
·         Ukur masukan dan haluaran, timbang BB tiap hari dan catat peningkatan lebih dari 0,5 kg/hari.
·         Awasi TD dan CVP catat JVD/distensi vena




·         Auskultasi paru, catat penurunan/tak adanya bunyi nafas dan terjadinya bunyi tambahan contoh krekeis.
·         Awasi distrimia jantung, auskultasi bunyi jantung, catat terjadinya irama gallop S3/S4
·         Kaji derajat perifer/edema dependen.


·         Ukur lingkar abdomen


·         Anjurkan pasien untuk turah baring bila ada asites.
·         Berikan perawatan mulut sering, kadang-kadang beri es batu (bila puasa).
Kolaborasi :
·         Awasi albumin serum dan elektrolit khususnya kalium dan natrium.

·         Awasi seri foto dada

·         Batasi natrium dan cairan sesuai indikasi.



·         Berikan albumin bebas garam/plasma ekspander sesuai indikasi



·         Berikan obat sesuai indikasi
Diuretik



·         Menunjukkan status volume sirkulasi, terjadinya perpindahan cairan dan respon terhadap terapi.
·         Peningkatan TD biasanya berhubungan dengan kelebihan volume cairan tetapi mungkin tidak terjadi karena perpindahan cairan keluar area vaskuler, distensi jugular eksternal berhubungan dengan kongesti vaskuler.
·         Peningkatan kongesti pulmonal dapat meningkatkan konsolidasi, gangguan pertukaran gas dan komplikasi.
·         Mungkin disebabkan oleh gejala, penurunan perfusi arteri koroner dan ketidakseimbangan elektrolit.
·         Perpindahan cairan pada jaringan sebagai akibat retensi natrium dan air, penurunan albumin dan penurunan ADH.
·         Menunjukkan akumulasi cairan (asites) diakibatkan oleh kehilangan protein plasma/cairan kedalam area peritoneal.
·         Dapat meningkatkan posisi rekumben untuk diuresis.
·         Menurunkan rasa halus


·         Penurunan albumin serum mempengaruhi tekanan osmotic koloid plasma, mengakibatkan pembentukan edema.
·         Kongesti vaskuler, edema paru dan efusi pleuru sering terjadi.
·         Natrium mungkin dibatasi untuk meminimalkan retensi cairan dalam area ekstravaskuler, pembatasan cairan untuk memperbaiki pengenceran hiponatremia.
·         Albumin mungkin diperlukan untuk meningkatkan tekanan osmotic koloid dalam kompertemen vaskuler sehingga meningkatkan volume sirkulasi efektif dan penurunan terjadinya asites.
·         Diberikan/digunakan dengan perhatian untuk mengontrol edema dan asites, menghambat efek aldosteron, meningkatkan eksresi air sambil menghemat kalium.


Diagnosa 3:
Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit
Berhubungan dengan
·         Gangguan sirkulasi
·         Akumulasi garam empedu pada kulit
·         Turgor kulit buruk
·         Penonjolan tulang
·         Adanya edema
·         Asites.
Kriteria hasil :
·         Mempertahankan integritas kulit
·         Mengidentifikasi factor resiko dan menunjukkan prilaku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit.

Intervensi
Rasional
·         Lihat permukaan kulit/titik tekanan secara rutin, pijat penonjolan tulang atau area yang tertekan terus-menerus, gunakan losion minyak : batasi penggunaan sabun untuk mandi.
·         Ubah posisi pada jadwal teratur, saat di kursi/tempat tidur : Bantu dengan latihan rentang gerak aktif/pasif.


·         Tinggikan eksremitas bawah

·         Pertahankan seprey kering dan bebas lipatan
·         Gunting kuku jari hingga pendek : berikan sarung tangan bila di indikaisikan
·         Berikan perawatan perineal setelah berkemih dan defekasi.
·         Berikan kasur bertekanan tertentu, kasur karton telur, kasur air, kulit domba, sesuai indikasi.
·         Edema jaringan lebih cendrung untuk mengalami kerusakan dan terbentuk dekubitus. Asites dapat meregangkan kulit sampai pada titik robekan pada sirosis berat.
·         Pengubahan posisi menurunkan tekanan pada saringan edema untuk memperbaiki sirkulasi, latihan meningkatkan sirkulasi dan perbaikan/mempertahankan mobilitas sendi.
·         Meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan edema pada ekstremitas.
·         Kelembaban meningkatkan pruritas dan meningkatkan resiko kerusakan kulit.
·         Mencegah pasien dari cedera tambahan pada kulit khususnya bila tidur.
·         Mencegah ekskoriasi kulit dari garam empedu.
·         Menurunkan tekanan kulit, meningkatkan sirkulasi dan menurunkan resiko iskemia (kerusakan jaringan).


Diagnosa 4:
Resiko tinggi teradap takefektifan pola peringatan
Berhubungan dengan
·         Pengumpulan cairan intra abdomen (asites)
·         Penurunan ekspansi paru
·         Akumulasi secret
·         Penurunan energi
·         Kelemahan.
Kriteria hasil :
·         Mempertahankan pola pernafasan efektif, bebas dispnea dan sianosis, dengan nilai gda dan kapasitas vital dalam rentang normal.

Intervensi
Rasional
·         Awasi frekwensi, kedalaman, dan upaya pernafasan.

·         Auskultasi bunyi nafas, catat krekeis, meni, ronki.


·         Selidiki perubahan tingkat kesadaran

·         Pertahankan kepala tempat tidur tinggi posisi miring.
·         Ubah posisi dengan sering : anjurkan nafas dalam, latihan dan batuk.
·         Awasi suhu, catat adanya meninggil, meningkatkan batuk, perubahan warna/karakter sputum.
Kolaborasi
·         Awasi seri GDA, nadi oksimetri, ukur kapasitas vital, foto dada.

·         Berikan tambahan 02 sesuai indikasi
·         Bantu dengan alat-alat pernafasan contoh : spirometri intensif, tiupan botol.
·     Pernafasan dangkat cepat/dispnea mungkin ada sehubungan dengan hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen.
·     Menunjukkan terjadinya komplikasi contoh adanya bunyi tambahan menunjukkan akumulasi cairan, meningkatkan resiko infeksi.
·     Perubahan mental dapat menunjukkan hipoksemia dan gagal pernafasan yang sering disertai koma hepatik.
·     Memudahkan pernafasan dengan menurunkan tekanan pada diafragma dan menimbulkan ukuran aspirasi sekret.
·     Memantau timbulnya infeksi, contoh: pneumonia.
·     Menyatakan perubahan status pernafasan, terjadinya komplikasi paru.


·     Mungkin pelrlu untuk mengobati/mencegah hipoksia. Bila pernafasan tidak adequate, ventilasi mekanik sesuai indikasi/kebutuhan.
·     Menurunkan insiden atelektosis, meningkatkan mobilitas secret.

Diagnosa 5:
Resiko tinggi terhadap hemogragi
Berhubungan dengan
·         Profil darah abnormal
·         Gangguan factor pembekuan darah
·         Hipertensi portal
Kriteria hasil :
·         Mempertahankan homeostatis dengan tanpa perdarahan
·         Menunjukkan prilaku penurunan resiko perdarahan

Intervensi
Rasional
·         Kaji adanya tanda-tanda dan gejala-gejala erdarahan GI observasi warna dan konsistensi feses, drainase NG atau muntah.
·         Observasi adanya petakle, ekimosis, perdarahan dari satu atau lebih sumber.
·         Awasi TD, nadi, CVP bila ada.



·         Catat perubahan mental/tingkat kesadaran


·         Hindari pengukuran suhu rectal : hati-hati memasukkan selang Gl.
·         Anjurkan menggunakan sikat gigi halus, pencukur elektrik, hindari mengejan saat defekasi, meniupkan hidung dengan kuat dan sebagainya.
·         Gunakan jarum kecil untuk injeksi, tekan lebih lama pada bekas suntikan.
·         Hindarkan penggunaan produk yang mengandung aspirin.

Kolaborasi :
·         Awasi Hb/Ht dan factor pembekuan

·         Beri obat sesuai indikasi
-  Vitamin tambahan contoh : K, D &   C.
      -  Pelunak feces.
·         Berikan lavase gaster dengan cairan garam faal bersuhu kamar.

·         Bantu dalam memasukkan/ mempertahankan selang Gl.

·         Traktus GI paling biasa untuk sumber perdarahan sehubungan dengan mukosa yang mudah rusak dan gangguan dalam hemostosis karena sirosis.
·         K/D subkutan dapat terjadi sekunder terhadap gangguan faktpr pembekuan.
·         Peningkatan nadi dengan penurunan TD & Cup dapat menunjukkan kehilangan volume darah sirkulasi, memerlukan evaluasi lanjut.
·         Perubahan dapat menunjukkan penurunan perfusi jaringan serebral sekunder terhadap hipovotemia, hipoksemia.
·         Rectal dan vena esophageal paling rentan untuk robek.
·         Pada awalnya gangguan factor pembekuan, trauma minimal dapat menyebabkan perdarahan mukosa.

·         Meminimalkan kerusakan jaringan, menurunkan resiko perdarahan/ hematoma.
·         Koagulasi memanjang, berpotensi untuk resiko perdarahan.


·         Indikator anemia, perdarahan aktif atau terjadinya komplikasi.
·         Meningkatkan sintesis protombin dan koagulan bila hati berfungsi.

·         Mencegah mengejan yang akhirnya meningkatkan tekanan intraabdomen dan resiko robekan perdarahan.
·         Evakulasi darah dan traktus Gl menurunkan produksi ammonia dan resiko ansepalopah hepatik.
·         Sementara mengontrol perdarahan varises edofagus bila kontrol yang lain tak mampu dan stabilitas hemodinamik tak dapat ditingkatkan.


Diagnosa 6:
Resiko tinggi perubahan proses fikir
Berhubungan dengan
·         Perubahan fisiologis : peningkatan badab ammonia serum
·         Ketidakmampuan hati untuk detoksikasi enzim/ obat tertentu.
Kriteria hasil :
·         Mempertahankan tingkat mental.
·         Menunjukkan perilaku/ perubahan pola hidup untuk mencegah/
·         meminimalkan perubahan mental.

Intervensi
Rasional
·         Observasi perubahan perilaku dan mental contoh : letangi, bingung, cenderung tidur dan peka ransang.
·         Catat terjadinya/ adanya asterisk, tetor hetapikum, aktifitas kejang.

·         Konsul pada orang terdekat tentang perilaku umum dan mental pasien.
·         Biarkan pasien menulis nama secara periodic dan mempertahankan catatan ini untuk perbandingan, lepaskan penyimpangan kemampuan. Biarkan pasien melakukan aritmetik sederhana.
·         Orientasikan kembali pada waktu, tempat orang sesuai kebutuhan.
·         Pertahankan kenyamanan lingkungan tenang dan pendekatan lambat.


·         Berikan perawatan continue.



·         Pertahankan tirah baring, bantu aktifitas perawatan diri


·         Pasang pengaman tempat tidur dan beri bantalan bila perlu.
·         Selidiki peningkatan suhu, awasi tanda infeksi.

·         Hindari penggunaan narkotik atau sedative tranquilizer, dan batasi penggunaan obat yang dimetabolisme oleh hati.



Kolaborasi
·         Awasi pemeriksaan laboratorium batasi diet protein. Beri glukosa.

·         Bebaskan atau batasi diet protein. Berikan tambahan glukosa, hidrasi edekuat.
·         Berikan obat sesuai indikasi :
·         Elektrolit :
·         Pelembut feses, pembersih kolosi (contoh magnesium sulfat), enema, laktilosa:
·         Agen bakterisidal contoh neomisih (Neobiotik); kanamisin (kantrex).
·         Berikan O2 tambahan.

·         Bantu dalam prosedur sesuai indikasi contoh; dialari plasferes, atau perfusi hati ekstrakorporeal.

·         Pengkajian terus menrus terhadap perilaku dan status mental penting karena aktuasi alamia dari koma hepatic
·         Menunjukkan peningkatan kadar ammnion serum: peningkatan reiko berlanjutnya ensefalopati
·         Memberikan dasar untuk perbandingan dengan status saat ini
·         Test status neurologi sederhana dan koordinasi saat ini



·         Membantu dalam mempertahankan orientasi kenyataan menurunkan bingung/ansietas
·         Menurunkan rangsangan berlebihan/kelebihan sensori. Meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan koping
·         Pengenalan memberikan keyakinan, membantu dalam menurunkan ansietas dan memberikan lebih banyak dokumen akurat terhadap perubahan
·         Menurunkan kebutuhan metabolik hati, mencegah kelelahan dan meningkatkan penyembuhan, menurunkan resiko pembentukan amnion
·         Menurunkan resiko cidera bila bingung, kejang atau terjadi perilaku merusak
·         Infeksi dapat mencetuskan ensefalipati hepatik terhadap katabolisme jaringan dan mengeluarkan nitrogen
·         Obat tertentu bersifat toksik pada hati, sementara itu obat lain tidak dimetabolisme karena sirosis menyebabkan efek akumulasi yang mempengaruhi mental, menunjukkan tansa terjadinya sensefalopati atau menecetuskan koma

·         Peningkatan kadar amonia dapat mencetuskan atau berpotensi terjadi koma hepatik
·         Memperbaiki ketidakseimbangan dan emperbaiki fungsi serebral/ metabolisme amonia
·         Menghilangkan protein dan darah dari usus


·         Menghancurkan bakteri usus, menurunkan produksi amonia, mencegah ensefalopati
 ·         Mental dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen dan penggunaannya pada otak
·         Mungkin digunakan untuk mengurangi kadar amonia serum jika terjadi ensefalopati/ tindakan lain yang tidak berhasil


Diagnosa 7:
Gangguan harga diri/ citra tubuh
Berhubungan dengan
·         Perubahan biofisika/ gangguan penampilan fisik
·         Prognosis yang meragukan
·         Perubahan fungsi fran.
Kriteria hasil :
·         Menyatukan pemahaman akan perubahan dan penerimaan diri pada situasi yang ada.
·         Metode koping terhadap persepsi diri.

Intervensi
Rasional
·         Diskusikan situasi/ dorong pernyataan takut/ masalah


·         Dukung dan dorong pasien : berikan perawatan dengan positif perilaku bersahabat.


·         Dorong keluarga/ orang terdekat untuk menyatakan perasaan, berkunjung/ berpartisipasi pada perawatan.
·         Mandiri




·         Bantu pasien/ orang terdekat untuk mengatasi perubahan pada penampilan; an jurkam memakai baju yang tidak menonjolkan gangguan penampilan contoh menggunakan pakaian merah, biru atau hitam.
·         Rujuk ke pelayanan pendukung contoh konselor, sumber psikiatik, pelayanan serial, pendeta, dan/ atau program pengobatan alcohol.
·         Pasien sangat sensitive terhadap perubahan tubuh dan juga mengalami perasaan bersalah bila penyebab berhubungan dengan alcohol (80%) atau penggunaan obat lain.
·         Memberi perawatan kadang-kadang memungkinkan penilaian perasaan ntuk mempengaruhi perawatan pasien dan kebutuhan untuk membuat upaya untuk membantu pasien merasakan nilai pribadi.
·         Anggota keluarga dapat merasa bersalah tentang kondisi pasien dan taku terhadap kematian.
·         Emosi tanpa penilaian dan bebas mendekati pasien. Partisipasi pada perawatan membantu mereka merasa berguna dan meningkatkan kepercayaan antara staf, pasien dan orang terdekat.
·         Pasien dapat menunjukkan penampilan kurang menarik sehubungan dengan ikterik, asites, area ekimores. Memberikan dukungan dapat meningkatkan harga diri dan meningkatkan rasa control.

·         Peningkatan kerentanan/ masalah sehubungan dengan penyakit ini memerlukan sumber professional pelayanan tambahan.


Diagnosa 8:
Kurang pengetahuan tetang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan  
Berhubungan dengan
·         Kurang informasi
·         Kesalahan interpretasi
·         Ketidakbiasaan terhadap sumber-sumber informasi.
Kriteria hasil :
·         Klien menyatakan mengerti tentang kondisi penyakitnya
·         Klien tenang dengan ekspresi wajah yang rileks

Intervensi
Rasional
Mandiri
·         Kaji ulang proses penyakit/prognosis harapan yang akan datang 
·         Tekankan pentingnya menghindari alcohol. Berikan informasi tentang pelayanan masyarakat yang ada untuk membantu dalam rehabilitas alcohol sesuai indikasi.
·         Informasikan pasien tentang efek gangguan karena obat pada sitosis dan pentingnya penggunaan obat hanya yang diresepkan atau dijelaskan oleh dokter yang mengenal riwayat pasien

·         Kaji ulang prosedur untuk mempertahankan fungsi pisau peritoneovena



·         Tekankan pentingnya nutrisi yang baik anjurkan menghidari bawang dan keju padat, berikan intruksi diet khusus



·         Tekankan perlunya mengevaluasi kesehatan dan mentaati program terpeutik


·         Diskusikan pembatasan natrium dan garam serta perlunya membaca label makanan/obat yang dijual bebas





·         Dorong menjadwalkan aktivitas dengan periode istrihat ade kuat


·         Tingkatkan aktivitas hiburan yang dapat dinikmati pasien
·         Anjurkan menghindari infeksi, khususnya ISK


·         Indentifikasi bahaya lingkungan contoh karbon tetraklorida tipe pembersih, terpajan pada hepatitis
·         Anjurkan pasien/orang terdekat melihat tanda/gejala yang perlu pemberitahuan pada pemberi perawatan. Contoh peningkatan lingkar abdomen penurunan/peningkatan berat badan cepat ; peningkatan edema priver ; peningkatan dispenea ; demam ; darah pada feses atau urine
·         Intruksi orang terdekat untuk memberitahu pemberi perawatan akan adanya bingung, tidak rapi, tidur berjalan, fremor, atau perubuahan kepribadian

·         Memberikan dasar pengetahuan pada pasien yang dapat membuat pilihan informasi
·         Alkohol menyebabkan terjadinya sitosis




·         Beberapa obat bersifat hepatutuksik (khususnya narkotik, sedatif dan hipnotik ). Selain itu kerusakan hati telah menurunkan kemampuan metabolisme semua obat, potensi efek akumulasi dan/ atau meningkatnya kecendrungan pendaraan.
·         Pemasangan pirau Denver memerlukan pemompaan bilik untuk mempertahankan potensi alat. Pasien dengan pirau leveen dapat menggunakan pengikat abdomen dan/ atau melakukan gerakan valsalua untuk memepertahankan fungsi paru.
·         Pemeliharaan diet yang tepat dengan menghindari makanan tinggi amonia membantu perbaikan gejala dan membantu mencegah kerusakan hati. Instruksi tertulis akan membantu pasien sebagai rujukan dirumah.
·         Sifat penyakit kronis mempunyai potensial untuk komplikasi mengancam hidup. Memberikan kesempatan untuk evaluasi keefektifan program termasuk potensi pirau yang digunakan.
·         Meminimalkan asites dan pembentukan lema penggunaan berlebihan bahan tambahan mengakibatkan ketidak seimbangan elektrolit lain makanan pruduk yang dijual bebas/ pribadi ( contoh antasida, beberapa pembersih mulut ) dapat mengandung natrium tinggi atau alcohol.
·         Istirahat adekuat menurunkan kebutuhan metabolik tubuh dan meningkatkan simpangan energi untuk regenerasi jaringan.
·         Mencegah kebosanan dan meminimalkan ansietas dan depresi.
·         Penurunan pertahanan gangguan status nutrisi dan responsium ( contoh leucopenia, dapat terjadi pada splenomegali ) potensial risiko infeksi.
·         Dapat mencetus kekambuhan.


·         Pelaporan segera tentang gejala menurunkan resiko kerusakan hati lebih lanjut dan memberikan kesempatan untuk mengatasi komplikasi sebelum mengancam hidup



·         Perubahan (menunjukan penyimpngan) dapat lebih tampak oleh orang terdekat, meskipun adanya perubahan dapat dilihat oleh orang lain yang jarang kontak dengan pasien.




REFERENSI:
Brunner dan Suddart, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 3, Jakarta: EGC
Doenges M.E., 2000, Rencana Asuhan keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, Jakarta: EGC
Noer M.S., 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, edisi ketiga, Jakarta Penerbit Balai penerbit FKUI
Sylvia A.P, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses–Proses Penyakit, Edisi 4, buku II,  Jakarta: EGC


Comments

Popular posts from this blog

Daftar Kode UPBJJ dan Kode Mata Kuliah Universitas Terbuka

_*DAFTAR KODE & UPBJJ*_ 21-Jakarta 22-Serang 23-Bogor 24-Bandung 11-Banda Aceh 12-Medan 13-Batam 14-Padang 15-Pangkalpinang 16-Pekanbaru 17-Jambi 18-Palembang 19-Bengkulu 20-Bandar Lampung 41-Purwokerto 42-Semarang 44-Surakarta 45-Yogyakarta 71-Surabaya 74-Malang 76-Jember 77-Denpasar 78-Mataram 79-Kupang 47-Pontianak 48-Palangka Raya 49-Banjarmasin 50-Samarinda 80-Makassar 81-Majene 82-Palu 83-Kendari 84-Manado 85-Gorontalo 86-Ambon 89-Ternate 87-Jayapura 10-Sorong 51-Tarakan 90-Pusat Pengelolaan Mahasiswa Luar Negeri _*DAFTAR KODE & PRODI*_ *FE (Fakutltas Ekonomi)* - 53/Ekonomi Pembangunan-S1 - 54/Manajemen-S1 - 83/Akuntansi-S1 - 483/Akuntansi Keuangan Publik-S1 - 458/Ekonimi Syari'ah *FHISIP (Fakultas Hukum Ilmu Sosial & Ilmu Politik)* - 30/Perpajakan-DIII - 50/Ilmu Administrasi Negara-S1 - 86/Ilmu Administrasi Negara bidang minat Administrasi dan Manajemen Kepegawaian-S1 - 51/Ilmu Administrasi Bisnis-S1 - 71/Ilmu Pemerintahan-S1 - 38/Kearsipan-DIV - 72/Ilmu Komunika...

Posisi Pasien selama Operasi (Kamar Bedah)

Posisi pasien di meja operasi ditentukan dari jenis operasinya. Tidak hanya posisi waktu operasi, tetapi juga konsistensi fungsi vital pernafasan dan sirkulasi. Selama operasi pasien harus dilindungi dari trauma syaraf  dan gangguan sirkulasi adarah dengan menghindari ketegangan dan penekanan semua otot bagiantubuh. Untuk mempersiapkan posisi pasien perawat akamar bedah harus mengetahuianatomi meja operasi serta cara pemakaiannya. Sebelum operasi perawat mencoba dan memastiakan bagaimana cara menaikkan, menurunkan atau memiringkan  serta mengetahui bagian meja operasi yang dapat dilepas, ditambah ataupun dipatahkan agar operasi beajalan lancar. Apabila diperlukan perubahan posisi intar operasi, begitu juga dengan lampu perawat juga harus mengetahui anatomi dan tekhnik agar sinar lampu fokus pada sayatan yang dalam. Selain itu kita juga harus tahu bagaimana cara mengunci meja dan membuka kunci sehingga dapat digerakkan. Apabila semua itu sudah di pahami, jangan lupakan peraw...

Aseptik dan Antiseptik Area Operasi

Pasien yang akan mengalami tindakan pembedahan , pada daerah pembedahannya harus bebas dari debu, mikro organisme dan minyak yang menempel pada kulit, gunanya membunuh kuman patogen penyebab infeksi pada luka sayatan kulit. Kulit adalah organ pelindung tubuh yang utama, jika kulit rusak baik karena disengaja ataupun kecelakaan atau trauma maka organisme patogen akan mudah memasuki tubuh dan berkembang biak, mula-mula hanya setempat dan akhirnya menjadi sistemik. Proses radang merupakan respon tubuh untuk membatasi efek-efek luka, pertahanan internal yang melindungi tubuh terhadap infeksi sistemik. Disamping itu infeksi adalah suatu peroses dimana kuman patogen masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Luka sayatan pada pembedahan merusak pertahanan external dan memberi peluang masuknya kuman-kuman patogen. Jika kuman patogen cukup virulen sehingga mengalahkan pertahanan tubuh. Maka dapat timbul penyakit dengan menghancurkan jaringan lokal atau toksinnya disebarkan secara siste...