ASI merupakan makanan yang pertama, utama, dan terbaik bagi bayi, yang bersifat alamiah. ASI mengandung berbagai zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang seimbang yang sangat dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Oleh karena itu WHO merekomendasikanpemberian ASI ekslusif selama 6 bulan. Terkait dengan itu, ada suatu hal yang perlu disayangkan, yakni rendahnya pemahaman ibu, keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya ASI bagi bayi. Akibatnya, program pemberian ASI Eksklusif tidak berlangsung secara optimal (Prasetyono, 2009, hlm. 21).
Tidak optimalnya pemberian ASI ekslusif pada bayi oleh ibu salah satunya sering dikaitkan dengan masalah eksim susu yang terjadi pada bayi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Divisi Dermatologi Anak Departemen IKKK, Fakultas kedokteran Universitas Indonesia/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo, sepanjang tahun 2005-2009, menunjukkan kejadian eksim susu menempati peringkat pertama pada bayi dan balita dari 10 jenis penyakit terbanyak di Divisi Dermatologi. Eksim susu adalah peradangan kulit yang bersifat kronik, hilang timbul yang disertai rasa gatal. Di dunia medis dikenal dengan istilah eksim atopik atau dermatitis atopik (FKUI, 2005, hlm. 5).
Eksim susu lebih banyak terjadi pada bayi dengan kelainankulit yang sering di temukan di daerah pipi, oleh sebab itu sering disalah-artikan bahwa eksim susu terjadi akibat sisa ASI yang menempel pada pipi
sehingga terjadi kesalahan dalam penanganannya.(Jhonson, 2009. ¶ 2)
sehingga terjadi kesalahan dalam penanganannya.(Jhonson, 2009. ¶ 2)
Dermatitis atopik masih merupakan masalah kesehatan, terutama pada bayi dan anak, karena sifatnya yang kronik residif, sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Dermatitis atopik paling sering pada bayi, namun dapat juga pada anak dan dewasa. Pada sebagian besar pasien, dermatitis atopik merupakan manifestasi klinis atopi yang pertama, dan banyak diantara mereka kemudian akan mengalami asma dan rinitis alergik. Walaupun predisposisi genetik merupakan salah satu faktor risiko yang paling penting, tetapi meningkatnya prevalensi dermatitis atopik di negara-negara industri menunjukkan bahwa faktor lingkungan (pajanan mikroba dan nutrisi) juga mempunyai peran yang cukup penting (Schultz, et al., 1996 dalam Gondokaryono, 2009; Leung, 2007; Wisesa, 2009; Dharmadji, 2006).
Etiologi pasti dermatitis atopik ini belum diketahui, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa dermatitis atopik ini disebabkan dari interaksi antara genetik, lingkungan, defek sawar kulit dan sistem imun (Peterson dan Chan, 2006). Simptom utama dari dermatitis atopik ialah gatal. Gatal merupakan masalah utama selama tidur, pada waktu kontrol kesadaran terhadap garukan menjadi hilang. Untuk bayi, dermatitis atopik dapat menyebabkan keadaan yang tidak menyenangkan dan mengganggu oleh karena iritasi di daerah kulit yang disertai rasa gatal, garukan, sampai terjadinya infeksi. Kesemua ini dapat membuat bayi menjadi rewel, proses pemberian makan menjadi terganggu, dan akhirnya akan mempengaruhi proses tumbuh kembangnya (Dewi, 2004).
Tidak ada penyembuhan yang total untuk dermatitis atopik, namun gejala yang timbul cenderung berkurang seiring dengan perjalanan usia. Dari seluruh bayi yang menderita dermatitis atopik, hanya sepertiga kasus yang masih terus mengalami kekambuhan penyakit ini hingga masa kanak-kanak. Hal yang serupa juga didapatkan pada mereka masih menderita dermatitis atopik pada masa kanak-kanak, hanya sekitar sepertiga kasus masih berlanjut hingga masa remaja. Sebagian besar penderita mengalami periode remisi dan periode kambuh penyakit ini selama bertahun-tahun (Leung, et al., 2004 dalam Zulkarnain, 2009).
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya dermatitis atopik yang persisten antara lain, adanya riwayat anggota keluarga yang menderita dermatitis atopik, awitan penyakit pada usia dini, gambaran penyakit yang semakin meluas pada awal kehidupan dan adanya penyakit asma atau rinitis alergik yang timbul secara bersamaan (Leung, et al., 2007) .
Prevalensi dermatitis atopik pada anak cenderung meningkat pada beberapa dekade terakhir. Menurut International Study of Asthma and Allergies in Children, prevalensi penderita dermatitis atopik pada anak bervariasi di berbagai negara. Prevalensi dermatitis atopik pada anak di Iran dan China kurang lebih sebanyak 2%, di Australia, England dan Scandinavia sebesar 20%. Prevalensi yang tinggi juga didapatkan di Negara Amerika Serikat yaitu sebesar 17,2% (Flohr, et al., dalam Zulkarnain, 2009; Laughter, et al., 2000 dalam Simpson dan Hanifin, 2005).
Pada penelitian Yuin Chew Chan dkk, di Asia Tenggara didapatkan prevalensi dermatitis atopik pada orang dewasa adalah sebesar kurang lebih 20% (Chan, et al., 2006 dalam Zulkarnain, 2009).
Data mengenai penderita dermatitis atopik di Indonesia belum diketahui secara pasti. Berdasarkan data di Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit Anak RSU Dr. Soetomo didapatkan jumlah pasien dermatitis atopik mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jumlah pasien dermatitis atopik baru yang berkunjung pada tahun 2006 sebanyak 116 pasien (8,14%) dan pada tahun 2007 sebanyak 148 pasien (11,05%), sedangkan tahun 2008 sebanyak 230 pasien (17,65%) (Zulkarnain, 2009).
Seperti negara sedang berkembang lainnya, di Indonesia, kelainan ini belum mendapat cukup perhatian. Angka kejadian dermatitis atopik di Medan hingga saat ini belum diketahui.
Etiologi pasti dermatitis atopik ini belum diketahui, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa dermatitis atopik ini disebabkan dari interaksi antara genetik, lingkungan, defek sawar kulit dan sistem imun (Peterson dan Chan, 2006). Simptom utama dari dermatitis atopik ialah gatal. Gatal merupakan masalah utama selama tidur, pada waktu kontrol kesadaran terhadap garukan menjadi hilang. Untuk bayi, dermatitis atopik dapat menyebabkan keadaan yang tidak menyenangkan dan mengganggu oleh karena iritasi di daerah kulit yang disertai rasa gatal, garukan, sampai terjadinya infeksi. Kesemua ini dapat membuat bayi menjadi rewel, proses pemberian makan menjadi terganggu, dan akhirnya akan mempengaruhi proses tumbuh kembangnya (Dewi, 2004).
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya dermatitis atopik yang persisten antara lain, adanya riwayat anggota keluarga yang menderita dermatitis atopik, awitan penyakit pada usia dini, gambaran penyakit yang semakin meluas pada awal kehidupan dan adanya penyakit asma atau rinitis alergik yang timbul secara bersamaan (Leung, et al., 2007) .
Prevalensi dermatitis atopik pada anak cenderung meningkat pada beberapa dekade terakhir. Menurut International Study of Asthma and Allergies in Children, prevalensi penderita dermatitis atopik pada anak bervariasi di berbagai negara. Prevalensi dermatitis atopik pada anak di Iran dan China kurang lebih sebanyak 2%, di Australia, England dan Scandinavia sebesar 20%. Prevalensi yang tinggi juga didapatkan di Negara Amerika Serikat yaitu sebesar 17,2% (Flohr, et al., dalam Zulkarnain, 2009; Laughter, et al., 2000 dalam Simpson dan Hanifin, 2005).
Pada penelitian Yuin Chew Chan dkk, di Asia Tenggara didapatkan prevalensi dermatitis atopik pada orang dewasa adalah sebesar kurang lebih 20% (Chan, et al., 2006 dalam Zulkarnain, 2009).
Data mengenai penderita dermatitis atopik di Indonesia belum diketahui secara pasti. Berdasarkan data di Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit Anak RSU Dr. Soetomo didapatkan jumlah pasien dermatitis atopik mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jumlah pasien dermatitis atopik baru yang berkunjung pada tahun 2006 sebanyak 116 pasien (8,14%) dan pada tahun 2007 sebanyak 148 pasien (11,05%), sedangkan tahun 2008 sebanyak 230 pasien (17,65%) (Zulkarnain, 2009).
Seperti negara sedang berkembang lainnya, di Indonesia, kelainan ini belum mendapat cukup perhatian. Angka kejadian dermatitis atopik di Medan hingga saat ini belum diketahui.
Meski masalah eksim susu yang terjadi pada bayi bukan penyakit yang menular dan mematikan namun jika tidak diatasi dengan dengan baik akan menimbulkan ketidaknyamanan pada bayi mengingat gejala yang ditimbulkan dari eksim susu ini adalah rasa gatal pada daerah eksim (FKUI, 2008, hlm 8). Akan tetapi masih ada ibu yang mengabaikan hal ini karena ketidaktahuan terhadap masalah eksim susu yang sering dialami bayinya terutama pada tahun pertama kelahirannya.
Comments
Post a Comment
Berikan saran dan komentar anda